CFD dan Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Oleh: Muhammad Syarif*

OPINI – Berbagai upaya dilakukan oleh Aminullah Usman dan Zainal Arifin dalam menggerakkan perekonomian rakyat.

Car Free Day (CFD), bagian dari upaya kongkrit menggerakkan ekonomi rakyat, ungkap dewi penjual nasi goreng yang senantiasa nimbrung dalam setiap pergelaran CFD yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh setiap hari Minggu Pukul 07.00 Wib sejak Tahun 2018.

Lebih lanjut saya mengatakan sungguh CFD benar-benar bermanfaat bagi kami, puluhan juta tercipta perputaran ekonomi, bahkan sejak CFD diberlakukan berbagai pelancong asing seperti malaysia, canada, afrika, belanda, australia, juga semakin menikmati CFD yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh.

“Banda Aceh Kota Aman dan Bahagia,” ungkap Jenes, warga afrika.

Berbagai hasil kerajinan rakyat dan kuliner dalam aneka ragamnya laku di area CFD.

“Inilah hasilnya jika insting banker memimpin Kota Banda Aceh, tahu selera warga dan memahami trend global,” ungkap Munzi pengusaha muda yang sukses

Lain lagi cerita Andri owner cemilan Hanakaru yang sempat kami wawancara, ia bahagia usaha yang ia ringkus dengan framing bisnis dan kampanye kedamaian menuai viral di sosmed dan dengan usahanya ia juga akan belajar promosi bisnis ke Amerika Serikat, Paket Training Pelaku Usaha Pemula.

Ia pun banyak berdiskusi panjang dengan saya, seputar Kampanye dan Bisnisnya.

CFD wow…banget dan luar biasa. Tentu ini juga bagian dari ijtihad birokrasi yang sangat kece banget. Insting bang carlos benar-benar luar biasa. CFD bukan sebatas rileksasi di hari libur. Akan tetapi multi efek positif.

Mulai dari efek penguran polusi emisi kendaraan, penyebaran informasi aktual Kota Banda Aceh, pemberdayaan ekonomi rakyat, promosi produk home industri, wisata kuliner, transaksi bisnis, silaturrahmi hingga ajang bermain ala anak.

Simpang Lima. Benar-benar menjadi ruang publik yang penuh kebahahgian bagi warga kutaraja.

Bagi Anda yang belum pernah hadir, coba dech pigi dijamin ketagian dan semakin merindukan CFD.

Pandemi covid-19 menyebabkan geliat ekonomi ekonomi kreatif lewat kanal CFD dengan sendirinya berhenti.

Ini bagian dari ikhtiar Pemerintah Kota Banda Aceh melaksanakan physical distancing dan social distancing, akibat dampak corona yang semakin meniup badai, merontoknya sebagian aktifitas perekonomian.

Beberapa penjual atawa pemilik warkop tutup karena kehilangan pelanggan setianya. Corona berefek pada kehilangan amzet sebagian pebisnis.

Beberapa hotel merumahkan karyawannya, sekolah diliburkan, perkantoran pun menghentikan berbagai aktivitas yang menghadirkan masyarakat khalayak.

Semoga Corona hilang, aktivitas berjalan normal, yang pada akhirnya urat nadi perekonomian kembali bergairah dan berjalan dengan norma di Kutaraja.

Semoga, Amiin.

*Penulis adalah Dosen Politeknik Kutaraja dan Sekjend Alumni Hukum Ekonomi Syariah (HES) UIN Ar-Raniry

Redaksi

Dengan senang hati kami menerima sumbangan tulisan Anda terkait ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Bisa kirim ke kontak kami. Terima kasih

One thought on “CFD dan Kebangkitan Ekonomi Rakyat

  • 13 April 2020 pada 07:03
    Permalink

    Sepertinya Aceh mustahil kembangkan UKM/IKM, pasalnya semua Bank harus Syari’ah & otomatis fix-rate berlaku (hanya tak mau disebut Bunga, diganti dengan jasa equity yg sangat mencekik).. Apa mungkin usaha kecil berkembang dengan harus membayar jasa equity di atas 48% ? Kalau di sistem konvensional kalau disebut bunga 12% ya 12% yang kita harus bayar, bener toh ?.. Iya sepertinya dunia usaha yang kecil-kecil itu kita buang & bakar aja semua perizinan yang ada, percuma kalle kalau modalnya harus kita cari dari hongkong..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *