Ingin Suskes Berbisnis? Cermati Cara Berikut ini

BANDA ACEH – Dalam konteks mencari harta dan kekayaan, Islam adalah agama yang erat kaitannya dengan dagang atau perniagaan. Ini menandakan bahwa Islam merupakan agama yang mendidik pengikutnya agar kreatif mencari rezeki, penuh perhitungan laba/rugi, dan berjiwa sosial.

Dikatakan kreatif karena kegiatan berdagang selalu membutuhkan ide-ide unik dalam menjalankannya. Sehingga seorang pedagang yang cerdas tentu dia pula sangat kreatif.

Bukan hanya kreatif dan kaya ide. Berdagang dalam Islam mewakili filosofi hidup, bahwa yang namanya hidup mesti memperhatikan laba atau rugi atas setiap keputusan dan tindakan yang diambil.

Setiap orang pasti ingin sukses dalam usaha dagang mereka. Kegiatan perdagangan atau perniagaan identik dengan jual beli. Karenanya seorang pedagang harus pandai melayani, berkomunikasi, dan dekat dengan pelanggannya.

Lantas bagaimana agar seorang pedagang sukses dalam bisnisnya. Sikap apa yang harus dimiliki sebagai etika pedagang?

Mari kita mengenal sejauh manakah keluhuran perilaku seorang pedagang muslim sehingga ia berhasil menarik perhatian dan simpati masyarakat. Konon Islam masuk ke nusantara pun melalui misi dagang.

Dengan mengetahui berbagai etika dsn adab muslim sejatur, diharapkan Anda dapat merintis usaha dengan sukses sekaligus membangkitkan kembali strategi dakwah Islam melalui berdagang sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan Rasulullah Saw.

Berikut etika dan adabnya:

Niat yang Tulus

Niat adalah dasar dan pembangkit segala bentuk ucapan dan tindakan. Bila niat Anda tulus dan ikhlas, niscaya ketulusan dan keikhlasan niat ini akan terpancar dalam ucapan dan tindakan Anda.

Seorang muslim yang berprofesi sebagai pedagang atau menjalankan usaha perdagangan. Maka niat paling utama adalah bekerja untuk menjaga kehormatan dirinya dan tidak merendahkan diri dengan meminta-minta.

Tangguh dan Pantang Menyerah

Diantara kepribadian pedagang muslim yang membedakannya adalah memiliki sikap tangguh dan pantang menyerah. Berbagai aral yang dijalan hidupnya tidak menjadikan semangat mereka jadi lemah dan loyo. Mereka selalu optimis menatap masa depan.

Karakteristik ini mencirikan sifat seorang muslim yang haram berputus asa. Dengan percaya bahwa rezeki merupakan urusan Allah maka keberhasilan dan rizkinya pun pastilah mengalir.

Keimanan Anda sebagai pedagang muslim tidak menjadikan Anda pasrah pada setiap keadaan. Keimanan itu justru akan mendorong Anda untuk terus berusaha dan berdoa. Adapun soal hasil, Anda menyerahkannya kepada sang Pemilik Rizki.

Tidak Lalai dari Mengingat Allah

Salah satu diantara jutaan keindahan Islam yaitu apapun yang dilakukan oleh seorang muslim semuanya bernilai ibadah asalkan ia meniatkan perbuatan tersebut karena Allah Subhanahu Wata’ala.

Karakter muslim yang seperti itu akan membedakan dirinya dengan pengusaha atau pedagang nonmuslim. Pedagang muslim senantiasa selalu mengingat Allah kendatipun dalam kesibukan mereka yang amat sangat.

Dalam Surat An-Nur ayat 37 Allah berfirman yang maknany: “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual-beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang padanya hati dan penglihatan berguncang. (Alquran)

Pedagang muslim sejati tentu memiliki keteguhan iman yang kuat. Sibuknya perniagaan yang mereka jalankan tidak membuat mereka lalai dari perintah Allah.

Bersifat Jujur

Syariat Islam mengajarkan seorang muslim untuk selalu berbuat jujur dalam segala hal dan setiap apapun keadaan. Sifat jujur tidak merugikan siapapun bahkan ia baik bagi Anda, baik bagi perusahaan, dan baik bagi pelanggan. Maka berlaku jujur akan menguntungkan semua pihak.

Rasulullah Saw bersabda, “Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang kelak pada hari kiyamat akan dibangkitkan sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur. (HR At Timizy)
Senantiasa Memberi Kemudahan bagi Orang Lain

Jaman sekarang sering kita dengar slogan “kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah.”

Kalimat tersebut bukan hanya tidak bermanfaat bahkan keliru menurut pandangan Islam.

Seorang pedagang muslim perlu menyadari bahwa perniagaan dan keuntungan secara materi bukanlah tujuan akhir dari perniagaan itu. Keuntungan secara materi hanyalah sebuah konsekuensi.

Tapi yang menjadi cita-cita dan harapan besar seorang pedagang muslim pada perniagaannya adalah bagaimana menjadi itu sebagai sarana untuk menjadi ibadah dan mendapatkan keridhaan Allah Swt.

Karena itu tidak berlaku bagi seorang pedagang muslim mempuyai sikap mempersulit orang lain. Justru sebaliknya, ia harus ringan tangan dan rendah hati pada urusan apapun yang dilakukannya termasuk dalam berdagang.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bercerita pada sahabat-sahabatnya suatu hari. ” (Pada hari kiyamat kelak) Allah mendatangkan salah seorang hamba Nya yang pernah Ia beri harta kekayaan, kemudian Allah bertanya kepadanya: Apa yang engkau lakukan ketika di dunia? –dan mereka tidak dapat menyembunyikan dari Allah suatu kejadian— ia pun menjawab: Wahai Tuhanku, Engkau telah mengaruniakan kepadaku harta kekayaan, dan aku berjual-beli dengan orang lain, dan kebiasaanku (akhlakku) adalah senantiasa memudahkan, aku meringankan (tagihan) orang yang mampu dan menunda (tagihan kepada) yang tidak mampu. Kemudian Allah berfirman: Aku lebih berhak melakukan ini daripada engkau, mudahkanlah hamba-Ku ini. (HR Bukhari)

Membelanjakan Harta di Jalan yang Benar

Banyaknya harta, melimpahnya kekayaan, mungkin saja akan menjerumuskan seseorang dalam kelalaian dan bahkan melupakan Allah sebagai pemilik harta yang sebenarnya.

Banyak orang yang lupa daratan hingga menghambur-hamburkan uangnya dijalan batil dan kemaksiatan. Hidup bermewah-mewah serta berlebihan hingga timbul sifat angkuh dan sombong. Percayalah, harta bisa membuat seseorang tergelincir pada kehancuran.

Namun bagi seorang muslim yang beriman, ia sadar bahwa harta yang diperolehnya dengan cara yang halal suatu saat nanti kekayaan tersebut harus dipertanggungjawabkan. Bukan hanya cara memperolehnya tapi juga kemana dibelanjakan.

Rasulullah Saw dalam haditsnya mengatakan,”kelak pada hari kiyamat, tidaklah kaki seorang hamba dapat bergeser hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya, apa yang telah ia perbuat dengannya, tentang hartanya, dari mana dan kemana ia membelanjakannya dan tentang badannya untuk apa ia gunakan.” (Riwayat At Tirmizi).

Tawakal

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw telah sebutkan “Andai engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung di pagi hari meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar dan ketika senja hari tiba, ia telah kenyang.” (HR Ahmad)

Dengan demikian tawakal yang benar tidak menjadikan Anda sebagai manusia pemalas. Akan tetapi tawakal akan menjadikan Anda penuh percaya diri tanpa ada kekuatiran sedikitpun terhadap janji Allah.(*)

Redaksi

Dengan senang hati kami menerima sumbangan tulisan Anda terkait ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Bisa kirim ke kontak kami. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *