Kerupuk Kulit, Menu Sahur nan Gurih

SIGLI – Bulan puasa atau ramadhan 1441 H sedang dinanti-nantikan kedatangannya oleh seluruh ummat Islam.

Bulan suci bagi setiap muslim yang telah beriman tersebut selalu menjadi dambaan dan diharapkan kehadirannya.

Karena saking mulia dan agungnya bulan itu.

Pada bulan puasa biasanya masyarakat Aceh selalu menyediakan menu-menu berbuka dan untuk sahur dengan berbagai jenis makanan.

Hal itu mereka lakukan untuk menjaga stamina sepanjang bulan puasa agar ibadah tetap lancar.

Sehingga perlu mengkonsumsi makanan beragam dan berimbang.

Salah satu menu makanan atau lauk yang paling favorit dikalangan masyarakat Aceh yang selalu disediakan baik saat makan makanan berbuka maupun makan saat sahur (pagi sebelum subuh) adalah kerupuk kulit Sapi atau Kerbau, kalau di Jawa disebut rambak.

Kerupuk kulit ini memang dihasilkan dari kulit ternak Sapi/Kerbau.

Di Kabupaten Pidie terdapat jenis usaha industri skala UMKM yang memproduksikan kerupuk kulit.

Tepatnya di Gampong (Kampung) Reubee Kecamatan Delima terdapat 6 perusahaan industri kerupuk kulit milik keluarga.

Di pabrik ini kerupuk kulit setiap harinya diproduksi dalam jumlah besar.

Seorang pemilik usaha kerupuk kulit kerbau bernama Bustamam (45 tahun) mengatakan keluarga mereka memang sudah sejak dulu menjalankan usaha ini.

Dulunya usaha tersebut dikelola oleh orang tua mereka.

Kini usaha tersebut sudah diwariskan kepada mereka anak-anaknya termasuk dirinya.

Bustamam beserta 2 saudaranya yang lain sekarang sudah memiliki usaha atau rumah produksi masing-masing.

Walaupun masih dalam satu daerah tetapi mereka memiliki segmen pasar sendiri-sendiri.

Jadi jika bersaing pun masih bersaing secara wajar.

Melalui badan usaha yang diberi nama “Nyoe Hoka”, Bustamam mengolah kulit Kerbau menjadi kerupuk yang renyah untuk dimakan hampir 5 ton setiap bulannya.

Untuk kebutuhan bahan baku tersebut diperoleh dari rumah-rumah potong hewan, para pengepul kulit, dan didatangkan dari luar daerah seperti Meulaboh dan Simeulue.

Seorang pekerja pada pabrik kulit kerupuk Nyoe Hoka mengatakan bahan baku (kulit) yang mereka gunakan memang kulit Kerbau, karena kulit Kerbau lebih tebal, besar, dan relatif mudah diolah dibandingkan kulit Sapi.

Walaupun untuk memperoleh kulit Kerbau agak sulit namun selama ini pasokan kulit Kerbau tidak ada masalah.

Saya yang pernah berkunjung langsung ke tempat produksi, memang benar bahwa pabrik kerupuk Nyoe Hoka terbilang suskes menjalankan bisnis kerupuk kulit yang sekarang ini pangsa pasarnya semakin luas.

Saya pun sempat mencoba ternyata cita rasanya sangat berbeda dengan kerupuk kulit atau rambak Sapi dari Pulau Jawa.

Apalagi akan memasuki bulan ramadan, permintaan kerupuk kulit Nyoe Hoka biasanya meningkat hingga 30-40 persen.

Bahkan dari sekarang pun sudah ada order dari beberapa pemasar di berbagai daerah penjualan.

Diantara para mitra penjual yang sudah meminta tambahan stok yaitu di Sigli, Banda Aceh dan Pasar Lambaro Aceh Besar, Meulaboh, hingga Pidie Jaya dan Aceh Utara.

Mereka ingin menyediakan untuk kebutuhan konsumen selama ramadan.

Masyarakat yang sudah terbiasa mengkonsumsi kerupuk kulit dibulan ramadan sebagai lauk saat sahur pasti tidak ingin melewatkan sahurnya tanpa kerupuk kulit Nyoe Hoka.

Karena itu membuat sahur terasa tidak lengkap.

Dengan harga jual 10.000 ribu per pack kerupuk kulit Nyoe Hoka sangat terjangkau. Dan memang segmen pasar yang ditujupun kalangan masyarakat menengah ke atas.

Namun bukan berarti kalangan bawah tidak boleh membeli. Karena kerupuk kulit Nyoe Hoka juga tersedia untuk pembeli masyarakat pada umumnya. (*)

Artikel ini sudah tayang di Kompasiana.

Redaksi

Dengan senang hati kami menerima sumbangan tulisan Anda terkait ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Bisa kirim ke kontak kami. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *