Laris Manis Bisnis Jasuke

BANDA ACEH – Dunia mahasiswa tidak selalu identik dengan demo, turun ke jalan, unjuk rasa, dan bakar-bakaran.

Apalagi identik dengan begal, narkoba, dan kejahatan lainnya, sama sekali, No!

Namun jika ada yang bilang mahasiswa itu kritis, cerdas, dan peduli pada masyarakat, itu yes!

Mahasiswa memang banyak modelnya. Beragam jenis, pola pikir, dan karakternya.

Ada mahasiswa yang sifatnya seperti kutu buku, senang membaca dan banyak prestasi akademik.

Ada pula mahasiswa yang tidak terlalu rajin mendalami ilmu secara akademik namun beprestasi pada bidang non akademik.

Bahkan bisa pula masuk pada kategori kedua-duanya.

Seperti kisah salah seorang mahasiswa sebuah kampus swasta berbasis vokasi di Kota Banda Aceh.

Ahlul Muhctar (19 tahun) yang kini baru duduk di semester pertama pada Program Studi Manajemen Keuangan Sektor Publik Politeknik Kutaraja Banda Aceh, ia tergolong mahasiswa kreatif, ulet, dan jeli melihat peluang bisnis.

Ahlul, begitu teman-temannya memanggil dirinya yang memiliki kemampuan akademik tergolong lumayan bagus.

Setiap hari ia sempatkan masuk kuliah sesuai jadwal meskipun ia memiliki kegiatan bisnis yang ia jalankan saat ini.

Ya, bisnis ala mahasiswa.

Dengan bermodalkan ide kreatif, Ahlul mencoba mengembangkan sebuah peluang usaha dengan produk makanan ringan atau sejenis cemilan atau jajanan yang terbuat dari olahan jagung manis yang ia beri nama Jasuke.

Melihat dari segi namanya sih kayak Jepang-jepang gitu.

Kalau orang belum lihat produknya pasti diikira produk impor dari negara Jepang nih.

Tapi tahukah Anda Jasuke itu hanyalah sebuah akronim dari Jagung Susu Keju. Kreatif bukan?

Saat ini Ahlul membuka usahanya tersebut pada setiap sore hari dan menjualnya didepan sebuah sekolah yang tergolong cukup ramai.

Jajanan lokal yang dipadu dengan ide kreatif zaman now ala Ahlul kini pun banyak diminati oleh siswa-siswi bahkan mahasiswa dilingkungan sekitar.

Setiap harinya ia bisa menjual sampai 5 kilogram jagung yang sudah direbus dan dipipil bijinya.

Biasanya Ahlul mampu mendapatkan omset sampai 200 ribu per hari. Lumayankan untuk bantu menutupi biaya kuliah?

Nah begitulah seharusnya mahasiswa zaman milenial.

Mereka harus mengembangkan kreativitas dan ide-idenya untuk menciptakan peluang kerja dan menghasilkan pendapatan, mininal buat diri sendiri.

Lalu berikutnya, mahasiswa harus melatih kemandirian sejak usia muda. Kemandirian dalam mengambil keputusan, mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya, dan mandiri secara ekonomi (jika bisa) seperti yang dilakukan Ahlul.

Itu baru namanya mahasiswa keren. Sukses ya Ahlul!

Bukan justru mereka asik menghabiskan waktunya tanpa menghasilkan apapun.

Ada pula mahasiswa yang terlibat narkoba, dan kejahatan lainnya.

Jika demikian, maka masa depan mereka pun akan suram. Dan akhirnya orang tua mereka juga kecewa karena anak-anaknya gagal dalam pendidikan. (*)

Redaksi

Dengan senang hati kami menerima sumbangan tulisan Anda terkait ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Bisa kirim ke kontak kami. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *