Model Kerjasama Bisnis dalam Islam

Oleh: Muhammad Syarif*

Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa Aba Manhal pernah mengatakan” Aku dan perseroku telah membeli sesuatu dengan cara tunai dan kredit.

Kemudian kami didatangi oleh Al-Barra bin Azib, lalu kami bertanya kepadanya. Dia menjawab. “Aku dan perseroku, Zaid bin Arqarn telah mengadakan (perseroan).

Kemudian kami bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang tindakan kami. Beliau menjawab “ Barang yang diperoleh dengan cara tunai silahkan kalian ambil. Sedangkan yang diperoleh dengan cara kredit silahkan kalian kembalikan”.

Imam ad- Daruquthni meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda, “yang maksudnya, Allah SWT berfirman;”Aku adalah pihak ketiga (Yang Maha Melindungi) bagi dua orang yang melakukan syirkah, selama salah seorang diantara mereka tidak berkianat kepada perseronya. Apabila diantara mereka berkianat, maka aku akan keluar dari mereka (tidak melindungi).

Syarikah (kerjasama) boleh dilakukan sesama muslim atau antar seorang muslim dengan kafir.

Imam muslim meriawatkan dari Abdullah bin Umar yang mengatakan Rasulullah SAW telah mempekerjakan penduduk khaibar (padahal mereka orang-orang Yahudi) dengan mendapat bagian dari hasil panen buah dan tanaman.

Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari orang Yahudi, lalu beliau menggadaikan baju besi beliau kepada orang Yahudi tersebut (HR. Imam Bukhari dengan Sanad dari Aisyah).

Lebih lanjut Imam At-Tarmizi juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Nabi SAW telah wafat, sedang baju besi beliau tergadaikan dengan dua puluh sha` makanan (43,42 Kg gandum), yang beliau ambil untuk menghidupkan keluarga beliau.

Perseroan dianggap tidak sah jika yang melakukan bukan termasuk katagori orang yang tidak boleh mengelola harta misalnya misalnya dilakukan oleh orang yang dikendalikan oleh orang lain (mahjur `alaihi).

Syarikah dapat berbentuk syarikah hak milik (syarikatul amlak) atau syarikah transaksi (syarikatul uqud).

Syarikah hak milik adalah syarikah terhadap zat barang seperti syarikah barang yang diwarisi oleh dua orang atau yang dibeli oleh keduanya.

Sedangkan syarikah uqud mengembangkan hak milik seseorang. Dalam konteks ini terdapat 5 jenis syarikah uqud yaitu:

Pertama; Syarikatul Inan yaitu syarikah antara dua orang atau lebih yang masing-masing mengikutkan modal kedalam syarikah sekaligus menjadi pengelolalanya.

Syarikah model ini dibangun dengan prinsip perwakilan (wakalah) dan kepercayaan (amanah). Masing-masing pihak menyerahkan modalnya kepada mitranya sekaligus memberikan kepercayaan untuk mengelolanya.

Dengan kata lain masing-masing persero (syarik) saling mewakilkan. Keuntungan diperoleh berdasarkan kesepakatan yang nisbahnya bisa sama atau beda sementara kerugian ditanggung bersama secara proporsional.

Lebih detil masalah syirkah ini dapat dilihat pendapat Abdurrazak di dalam kitab Al Jamik dari Ali ra yang mengatakan “pungutan itu tergantung kekayaan, sedangkan laba tergantung pada apa yang mereka sepakati.

Kedua: Syarikatul Abdan atau Syarikah Abdan adalah perseroan antara dua orang atau lebih yang mengandalkan tenaga atau keahliannya, misalnya syarikah antara insiyur sipil dan arsitek tanpa modal dana dalam sebuah usaha konsultan bangunan, keuntungan yang didapat dibagi sesuai kesepakatan.

Syarikah model ini hukumnya mubah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu daud dan Al Atsram dengan sanad dari Ubaidah dari bapaknya, Abdullah bin mas`ud yang mengatakan:

“Aku, Ammar bin Yasir dan Saad bin Waqash melakukan syirkah (perseroan) terhadap apa yang kami dapatkan pada perang badar, kemudian Sa’ad membawa dua orang tawanan perang, sementara aku dan Ammar tidak membawa apa-apa.” Tindakan mereka dibiarkan oleh Rasulullah SAW.

Ketiga; Syarikah Mudharabah atau Muqaradhah yaitu berpergian untuk urusan dagang.

Dimana pemilik modal (sahibul mal) menyerahkan modalnya kepad pengelola (mudharib) untuk dikelola atau diusahakan sedangangkan keuntungannya dibagi menurut kesepakatan.

Dalam teknik perbankan, mudharabah adalah akad kerjasama antara bank yang menyediakan modal dengan mudharib (nasabah) yang memamfaatkan untuk tujuan usaha yang produktif dan halal.

Hasil keuntungan dari penggunaan dana tersebut dibagi bersama berdasarkan nisbah yang disepakati.Jika terdapat kerugian akan ditanggung oleh shahibul mal sesuai dari proporsi modal yang dimudharabahkan.

Jumhur ulama mengatakan rukun mudharabah ada lima yaitu: (1) shabibul mal, (2) mudharib (pengelola), (3) keuntungan, (4) usaha yang dijalankan (5) aqad perjanjian.

Keempat: Syarikah Wujuh adalah syarikah antara dua orang dengan modal dari pihak diluar orang kedua itu.

Artinya salah seorang memberikan modal kepada kedua orang tersebut yang bertindak sebagai mudharib.

Sehingga kedua pengelola tersebut menjadi persero (syarik)-yang sama-sama bisa mendapatkan keutungan dari modal pihak lain.

Kedua pihak tersebut kemudian menentukan skim bagi hasilnya.

Syarikah Wujuh dapat terjadi karena adanya kedudukan profesionalisme atau kepercayaan dari pihak lain yang membeli secara kredit kemudian menjualnya secara kontan. Syarikah ini diperbolehkan menurut syara`.

Kelima: Syarikah Mufawadhah adalah gabungan berbagai jenis syarikah baik inan, abdan, mudharabah maupun wujuh.

Misalnya dua orang insiyur melakukan syarikah dengan keahliannya (syarikah abdan), keduanya sama-sama memiliki modal yang di syarikahkan (syarikah inan), sementara yang lain mensyarikahkan modalnya kedalam syarikah kedua insiyur tersebut (syarikah mudharabah).

Pada saat melakukan syarikah kedua insiyur mendapat kepercayan pedagang untuk membeli barang secara tunda. Wallahu `alam binshawab.

*Penulis adalah Sekjend Alumni Hukum Ekonomi Islam (HES) UIN Ar-Raniry dan Dosen Politeknik Kutaraja

Redaksi

Dengan senang hati kami menerima sumbangan tulisan Anda terkait ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Bisa kirim ke kontak kami. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *